Minggu, 13 November 2016

LIBURAN DI PEKANBARU 2017

LIBURAN DI PEKANBARU 2017

nak bercuti sila call /  wahtsapp : +6281806803803 dengan Muhamad Subari
layari juga blog lainnya di traveling indonesia
dan cek link kami di facebook

mari nikmati gambar - gambar indah di sini :














Rabu, 12 Oktober 2016

PAKEJ PERCUTIAN PEKANBARU - BUKITTINGGI 2017

PAKEJ PERCUTIAN PEKANBARU - BUKITTINGGI 2017
JIMAT DAN BERBALOI..........
WHATSAPP +6281806803803
 

PESONA PERCUTIAN PEKANBARU – MINANGKABAU ( PADANG - BUKITTINGGI )
In di Pekanbaru dan out di Padang
5 DAYS – 4 NIGHTS

DAY 1 : TIBA DI PEKANBARU – TOUR ( L, D )
Anda tiba di airport antara bangsa di pekanbaru, kami sambut dan kemudian bergerak menuju Bandar pekanbaru, melawat : MUSIUM SANG NILA UTAMA, BANDAR PEKANBARU, makan tengah hari, MASJID AN – NUR ( TAJ MAHAL PEKANBARU ), PASAR SUKA RAMAI / PASAR BAWAH, masuk hotel dan free program. Makan malam di local restaurant.

DAY 2 : PEKANBARU – PAYAKUMBUH – BUKITTINGGI  ( B, L,D )
Setelah sarapan kita cek out dan bergerak menuju PAYAKUMBUH, di perjalanan kita singgah menikmati LAPEK BUGIS, PUNCAK SELAT MELAKA, KELOK 9, makan tengah hari di LUBUK BANGKU, LEMBAH HARAU, bergerak ke BUKITTINGGI, makan malam dan masuk hotel, free program.

DAY 3 : BUKITTINGGI – PAGARUYUNG – PADANG ( B, L, D )
Setelah sarapan kita cek out dan tour melawat : KEBUN SALAK MADU, KILANG KAIN SULAM, KOPI KINIKO, makan tengah hari, ISTANO PAGARUYUNG, MAKAM RAJO, BATU BATIKAM, RUMAH GADANG di padang panjang, dan bergerak ke padang, makan malam dan masuk hotel, free program

DAY 4 : PADANG – MALIN KUNDANG TOUR ( B, L, D )
Setelah sarapan kita tour mengunjungi : PANTAI AIR MANIS – BATU MALING KUNDANG – PULAU PISANG KETEK. PUNCAK LAMPU dengan pemandangan JETI TELUK BAYUR, makan tengah hari, kembali ke padang dan city tour melawat : PANTAI PADANG, PANTAI MUARO, JEJANTAS SITI NURBAYA, PONDOK CINO, MASJID RAYA, makan malam dan kembali ke hotel.

DAY 5 : CITY TOUR DAN TRANSFER OUT ( B )
Setelah sarapan, cek out dan  bergerak ke airport antara bangsa di padang. Tour end.


Harga pakej BAJET :
Min 2 pax            : RM 1.085
Min 3 – 4 pax            : RM 870
Min 5 – 6 pax            : RM 735
Min 7 – 9 pax            : RM 640
Min 10 – 14 pax        : RM 630
Min 15 – 20 pax        : RM 620
Min 21 – up pax        : RM 600

Harga pakej DELUXE :
Min 2 pax            : RM 1.105
Min 3 – 4 pax            : RM 895
Min 5 – 6 pax            : RM 755
Min 7 – 9 pax            : RM 670
Min 10 – 14 pax        : RM 660
Min 15 – 20 pax        : RM 645
Min 21 – up pax        : RM 620





Pakej sudah termasuk     :
*transportation, *hotel, *meals, *tour, *parking fee, *mineral water, *tour guide ( minima 15 pax )

Pakej tiada termasuk     :
*tiket pesawat pergi – balik, *over baggage, *tipping untuk driver dan tour guide

Terms and condition     :
Sebut harga untuk kanak – kanak :
Guna bed sendiri = 100%, guna extra bed = 80%, sharing bed = 60%, baby 0 – 2 th = free
Deposit = 25% dari total harga.

DEPOSIT Sila bank in ke account :
-,  BANK CENTRAL ASIA cawangan BUKITTINGGI : number account = 8050082874 atas nama = M SUBARI
-, MAYBANK INDONESIA  cawangan BUKITTINGGI : number acc = 1-229-20625-1 atas nama = MUHAMMAD SUBARI

PAKET TOUR MURAH PEKANBARU - BUKITTINGGI

PAKET TOUR MURAH PADANG - BUKITTINGGI


anda nak bercuti ke bukittinggi - padang, namun sayang tiket pesawat mahal dari malaysia ke padang, jom .... cek tiket dari KLIA2 Ke Pekanbaru...............

MURAHHHHHH..................
SO... amiiiik cepat....

dan seterusnya amik pakej percutian pekanbaru - bukittinggi yang kita punya
insha allah akan memudahkan serta menyeronokan

jangan tengok berapa jauh atau berapa kilometer.. karena kita kan stop di beberapa tempat,  layaknya tour di kawasan kawasan lain, setiap 2 jam kita akan rehat.

maih sini, whatsapp +6281806803803 dengan saya muhammad subari
insha allah kami akan bantu menguruskan sebaik - baiknya... amien









PEKANBARU - BUKITTINGGI.. 2017 PAKET TERBAIK



PERCUTIAN PEKANBARU - BUKITTINGGI 2017
pilihan terbaik


PESONA PERCUTIAN DI PEKANBARU – BUKITTINGGI DAN PADANG
4 HARI DAN 3 MALAM


DAY 1 : TIBA DI PEKANBARU – BUKITTINGGI ( L, D )
Rombongan tiba dengan pesawat pagi di airport SUTAN SYARIF KASIM II, kami sambut dan kemudian kita bergerak menuju BUKITTINGGI, dan selama di perjalanan kita rehat untuk menikmati : KEK LAPEK BUGIS ( bayaran sendiri ),  KELOK 9, LEMBAH HARAU, makan siang dan malam di lokal restaurant.

DAY 2 : BUKITTINGGI – PADANG – MALIN KUNDANG ( B, L, D )
Setelah sarapan kita cek out dan bergerak ke PADANG, kita awali dengan melawat KEBUN SALAK MADU, belanja KAIN SULAM, makan tengah hari dan bergerak ke padang, terus melawat BATU MALIN KUNDANG ANAK DURHAKA, makan malam dan masuk hotel, free program.

DAY 3 : PADANG – PEKANBARU ( B, L, D )
Setelah sarapan, cek out dan tour melawat bandar padang, jejantas siti nurbaya, pantai padang, AIR TERJUN LEMBAH ANAI, RUMAH GADANG NAN 9 RUANG , makan tengah hari, bergerak ke pekanbaru, BERGAMBAR DI TASIK BUATAN KOTO PANJANG. Makan malam dan masuk hotel di pekanbaru. Free program.

DAY 4 : PEKANBARU – TRANSER OUT ( B )
Setelah sarapan kita cek out dan berpoto di MASJID RAYA / TAJ MAHAL PEKANBARU dan transfer ke airport.

Senin, 12 September 2016

CANDI MUARA TAKUS

DESTINASI BERSEJARAH.... TEMPAT LAWATAN DI PEKANBARU - KAMPAR


Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Buddha yang terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru.
Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut dengan Candi sulung /tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.
Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad ke-4, ada yang mengatakan abad ke-7, abad ke-9 bahkan pada abad ke-11. Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya.[1][2]
Pada tahun 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatera, merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini.
Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berbeda dengan candi yang ada di Jawa, yang dibuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan. Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai, terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus. Nama Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Tionghoa, Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat bermaksud lubang tanah, yang diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang. Namun dalam Bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip dengan Pangkali yang dapat berarti sungai, dan situs candi ini memang terletak pada tepian sungai.
Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar, berbentuk menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning. Di dalam situs Candi Muara Takus ini terdapat bangunan candi yang disebut dengan Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka. Selain bangunan tersebut di dalam komplek candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Sementara di luar situs ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.


Candi Muara Takus merupakan salah satu bangunan suci agama Budha yang ada di Riau. Ciri yang menunjukkan bangunan suci tersebut merupakan bangunan agama Budha adalah stupa. Bentuk stupa sendiri berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru. Stupa adalah ciri khas bangunan suci agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fungsinya dalam sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya. Berdasarkan fungsinya stupa dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
  1. Stupa yang merupakan bagian dari sesuatu bangunan.
  2. Stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.
  3. Stupa yang menjadi pelengkap kelompok selaku candi perwara.
Berdasarkan fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan di kompleks Candi Muara Takus menduduki fungsi yang kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.
Arsitektur bangunan stupa Candi Muara Takus sendiri sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Bentuk candi ini memiliki kesamaan dengan stupa Budha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara Takus.
Patung singa sendiri secara filosofis merupakan unsur hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat atau aspek ‘terang’ yang dapat mengalahkan aspek ‘jahat’. Dalam ajaran agama Budha motif hiasan singa dapat dihubungkan maknanya dengan sang Budha, hal ini terlihat dari julukan yang diberikan kepada sang Budha sebagai ‘singa dari keluarga Sakya’. Serta ajaran yang disampaikan oleh sang Budha juga diibaratkan sebagai ‘suara’ (simhanada) yang terdengar keras di seluruh penjuru mata angin.
Dalam naskah Silpa Prakasa dituliskan bahwa terdapat empat tipe singa yang dianggap baik, antara lain :
  1. Udyatā: singa yang digambarkan di atas kedua kaki belakang, badannya dalam posisi membalik dan melihat ke belakang. Sikap ini disebut simhavalokana.
  2. Jāgrata: singa yang digambarkan dengan wajah yang sangat buas (mattarūpina). Ia bersikap duduk dengan cakarnya diangkat ke atas. Sering disebut khummana simha.
  3. Udyatā: singa yang digambarkan dalam sikap duduk dengan kaki belakang dan biasanya ditempatkan di atas suatu tempat yang tinggi. Terkenal dengan sebutan jhmpa-simha.
  4. Gajakrānta: singa yang digambarkan duduk dengan ketiga kakinya di atas raja gajah. Satu kaki depannya diangkat di depan dada seolah-olah siap untuk menerkam. Singa ini disebut simha kunjara.
Di kompleks Candi Muara Takus sendiri terdapat dua candi yang memiliki patung singa, yaitu Candi Sulung dan Candi Mahligai. Di Candi Sulung arca singa ditemukan di depan candi atau di tangga masuk candi tersebut. Di Candi Mahligai arca singa ditemukan di keempat sudut pondasinya. Penempatan patung singa ini, berdasarkan konsep yang berasal dari kebudayaan India, dimaksudkan untuk menjaga bangunan suci dari pengaruh jahat karena singa merupakan simbol dari kekuatan terang atau baik.
Berdasarkan penelitian R.D.M. Verbeck dan E. Th. van Delden diduga bahwa bangunan Candi Muara Takus dahulunya merupakan bangunan Buddhis yang terdiri dari biara dan beberapa candi.

Minggu, 24 Juli 2016

SEJARAH KERAJAAN SIAK

KERAJAAN SIAK SRI INDERA PURA

LOKASI :

kerajaan SIAK SRI INDERA PURA berlokasi di  KABUPATEN SIAK, dimana istana sultan berada.
dan bila kita dari pekanbaru kita boleh mencapainya dalam tiga jam perjalanan dengan mobil pribadi.
dan kerajaan siak ini memiliki banyak sungai yang melaluinya, salah satu sungai terbesarnya adalah SUNGAI SIAK, adapun sungai - sungai itu antara lain :
Sungai Mandau, Sungai Gasib, Sungai Apit, Sungai Tengah, Sungai Rawa, Sungai Buantan, Sungai Limau, dan Sungai Bayam.

Sedangkan danau-danau yang tersebar di daerah ini adalah: Danau Ketialau, Danau Air Hitam, Danau Besi, Danau Tembatu Sonsang, Danau Pulau Besar, Danau Zamrud, Danau Pulau Bawah, Danau Pulau Atas dan Tasik Rawa.

GEOGRAFIS
keadaan tanah dan bumi  di kerajaan siak adalah berupa dataran rendah dan sedikit dataran tinggi di sebelah barat.
Bentang alam Kabupaten Siak sebagian besar terdiri dari dataran rendah di bagian Timur dan sebagian dataran tinggi di sebelah barat. Pada umumnya struktur tanah terdiri dan tanah podsolik merah kuning dan batuan dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah. Lahan semacam ini subur untuk pengembangan pertanian dan perkebunan.

SEJARAH dan RAJA RAJA SIAK

RAJA KECIK
pendiri kerajaan siak sri indera pura adalah RAJA KECIL atau RAJA KACIAK atau RAJA KECIK. yang ber asal dari pagaruyung.
beliau juga di kenal dengan gelaran nama : Sultan Abdul Jalil Syah atau Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I. 
ia merupakan saduara dari yang di pertuan agung raja pagaruyung yang bernama : Yang Dipertuan Pagaruyung Raja Alam Indermasyah, 

siapa SULTAN ABDUL JALIL ini : 
Pada tahun 1716, Sultan Abdul Jalil diutus oleh Sultan Indermasyah untuk mewakili dirinya dalam menyelesaikan kesepakatan dagang dengan pihak VOC, pada awalnya pihak Belanda menolaknya, namun kemudian kembali datang surat dari Yang Dipertuan Pagaruyung, yang menegaskan status dari pada Sultan Abdul Jalil tersebut.[1]
Dalam Syair Perang Siak, Raja Kecil putra Pagaruyung, didaulat menjadi penguasa Siak atas mufakat masyarakat di Bengkalis, sekaligus melepaskan Siak dari pengaruh Johor. Berdasarkan Hikayat Siak, Raja Kecil merupakan putra dari Sultan Mahmud, Sultan Johor yang terbunuh. Dari suratnya kepada VOC, Raja Kecil dari Pagaruyung, memberitahukan bahwa ia akan menuntut balas atas peristiwa terbunuhnya Sultan Mahmud. Pada tahun 1717 Raja Kecil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor, dengan gelar Yang Dipertuan Besar Johor, namun pada tahun 1722 karena pengkianatan beberapa bangsawan Johor, ia tersingkir dan kemudian pindah ke Siak dan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pemerintahannya tahun 1723.
Sebelumnya dari catatan Belanda, juga mencatat pada tahun 1674, ada datang utusan dari Johor untuk mencari bantuan bagi raja Minangkabau berperang melawan raja Jambi. Kemudian berdasarkan surat dari Raja Jambi, Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.[2]
Pada tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah, dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di Bintan bahkan pada tahun 1740-1745 menaklukan beberapa kawasan di Kedah. Sultan Abdul Jalil Syah mangkat pada tahun 1746 dan dimakamkan di Buantan kemudian digelari dengan Marhum Buantan. Kemudian kedudukannya digantikan oleh putranya, yang bernama Sultan Mahmud.

Yang Dipertuan Besar Mahmud Syah atau Sultan Mahmud Abdul Jalil Syah dari Siak Sri Inderapura,  Dalam Syair Perang Siak, sepeninggal Raja Kecil, kedudukannya digantikan oleh Raja Mahmud untuk menjadi penguasa Siak selanjutnya.[1] Peralihan kekuasaan ini diperkirakan sekitar tahun 1746, Raja Mahmud kemudian memerintah sampai tahun 1761.


Yang Dipertuan Besar Ismail Syah atau Sultan Ismail Abdul Jalil Syah dari Siak Sri Inderapura, merupakan putra dari Raja Mahmud, Yang Dipertuan Besar Siak.
Sepeninggal Raja Mahmud, Kesultanan Siak Sri Inderapura diperebutkan oleh Raja Ismail dan Raja Muhammad Ali. Karena dukungan Belanda, suksesi ini dimenangi oleh Raja Muhammad Ali. Kemudian Raja Ismail memilih untuk berkelana di lautan.[1] Pada tahun 1761, Raja Ismail pergi ke Siantan dan disini ia memperoleh dukungan dari Orang Laut. Setelah memiliki kekuatan serta dukungan Orang Laut, ia mengontrol perdagangan timah di Pulau Bangka dan menyerang Kesultanan Mempawah di Kalimantan Barat.
Pada tahun 1779 Raja Ismail mengambil alih kedudukan Yang Dipertuan Besar Siak dari sepupunya Raja Muhammad Ali.[2] Ia berkuasa hingga tahun 1781 sebelum akhirnya digantikan oleh Sultan Yahya.

Yang Dipertuan Besar Yahya Syah atau Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah dari Siak Sri Inderapura, merupakan putra dari Raja Ismail, Yang Dipertuan Besar Siak.[1]
Raja Yahya meninggal dunia pada tahun 1791 dan dimakamkan di Tanjung Pati (Che Lijah, Dungun, Terengganu, Malaysia).

Yang Dipertuan Besar Sayyid Ali Syah atau Sultan Sayyid Ali Abdul Jalil Saifuddin dari Siak Sri Inderapura, merupakan keponakan dari Raja Ismail, Yang Dipertuan Besar Siak.[1]
Raja Sayyid Ali merupakan putra dari Sayyid Osman al-Syaikh 'Ali Ba' Alawi, yang menikahi cucu perempuan Raja Kecil.


Yang Dipertuan Besar Sayyid Ibrahim Syah atau Sultan Sayyid Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin dari Siak Sri Inderapura, merupakan putra dari Raja Sayyid Ali, Yang Dipertuan Besar Siak.[1]

Yang Dipertuan Besar Sayyid Ismail Syah atau Mangkubumi Sayyid al-Syarif Jalaluddin 'Ali Ba' Alawi[1] dari Siak Sri Inderapura, merupakan kemenakan dari Raja Sayyid Ibrahim, Yang Dipertuan Besar Siak.[2]

Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim I, atau sultan syarif hashim 
adalah raja di siak setelah yang di pertuan besar sayyid ismail syah, pada masa ini pergolakan antara VOC Belanda dengan pagaruyung tengah memuncak, dan merembet ke kerajaan siak, sehingga masa pemerintahannya sangat singkat, dan ia kemudian di gantikan oleh anaknya sultan syarif kasim II

Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin[1] atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893 – meninggal di Rumbai, Pekanbaru, Riau, 23 April 1968 pada umur 74 tahun) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Ia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik (setara dengan 151 juta gulden atau € 69 juta Euro pada tahun 2011)[2] . Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak republik. Namanya kini diabadikan untuk Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru.

ARTI NAMA SIAK

Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura dapat bermaksud dengan "kota" atau "kerajaan". Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.
Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii, masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani. Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai

SEJARAH

Dengan klaim sebagai pewaris Malaka,[4] pada tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah, dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak dan kemudian membangun pertahanan armada laut di Bintan. Namun pada tahun 1728, atas perintah Raja Sulaiman, Yang Dipertuan Muda bersama pasukan Bugisnya, Raja Kecil diusir keluar dari Kepulauan Riau. Raja Sulaiman kemudian menjadikan Bintan sebagai pusat pemerintahannya. Atas keberhasilannya itu, Yang Dipertuan Muda diberi kedudukan di Pulau Penyengat.[24]
Sementara Raja Kecil terpaksa melepas hegemoninya di Kepulauan Riau dan mulai membangun kekuatan baru di kawasan sepanjang pesisir timur Sumatera. Antara tahun 1740-1745, Raja Kecil kembali bangkit dan menaklukan beberapa kawasan di Semenanjung Malaya.[25] Karena mendapat ancaman dari Siak, dan disaat yang bersamaan orang-orang Bugis juga meminta balas atas jasa mereka, maka Raja Sulaiman meminta bantuan kepada Belanda di Malaka. Dalam perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1746 itu, Johor menjanjikan akan memberikan Bengkalis kepada Belanda. Perjanjian itu kemudian direspon oleh VOC dengan mendirikan gudang pada kawasan tersebut.[26][27]
Sepeninggal Raja Kecil pada tahun 1746, klaim atas Johor memudar. Dan pengantinya Sultan Mahmud berfokus kepada penguatan kedudukannya di pesisir timur Sumatera dan daerah vassal di Kedah dan kawasan pantai timur Semenanjung Malaya. Pada tahun 1761, Sultan Siak membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya, serta bantuan dalam bidang persenjataan.[28] Setelah Raja Mahmud wafat, muncul dualisme kepemimpinan di kerajaan ini. Raja Muhammad Ali yang lebih disukai Belanda kemudian menjadi Sultan Siak. Sementara sepupunya Raja Ismail yang tidak disukai Belanda, muncul sebagai Raja Laut, menguasai perairan timur Sumatera sampai ke Laut Cina Selatan, dan membangun kekuatan di gugusan Pulau Tujuh.[29]
Sekitar tahun 1767, Raja Ismail telah menjadi duplikasi dari Raja Kecil. Didukung oleh Orang Laut, ia terus menunjukan dominasinya di kawasan perairan timur Sumatera, dengan mulai mengontrol perdagangan timah di Pulau Bangka, kemudian menaklukan Mempawah di Kalimantan Barat. Sebelumnya Raja Ismail juga turut membantu Terengganu menaklukan Kelantan, hubungan ini kemudian diperkuat oleh adanya ikatan perkawinan antara Raja Ismail dengan saudara perempuan Sultan Terengganu. Pengaruh Raja Ismail di kawasan Melayu sangat signifikan, mulai dari Terengganu, Jambi, dan Palembang. Laporan Belanda menyebutkan, Palembang telah membayar 3.000 ringgit kepada Raja Ismail agar jalur pelayarannya aman dari gangguan. Sementara Hikayat Siak menceritakan tentang kemeriahan sambutan yang diterima oleh Raja Ismail sewaktu kedatangannya ke Palembang.[29]
Pada abad ke-18, Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780, Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya,[30] termasuk wilayah Deli dan Serdang.[31] Di bawah ikatan perjanjian kerja sama dengan VOC, pada tahun 1784 Kesultanan Siak membantu VOC menyerang dan menundukkan Selangor.[32] Sebelumnya mereka telah bekerja sama memadamkan pemberontakan Raja Haji Fisabilillah di Pulau Penyengat.

Senin, 04 April 2016

JOM PI PEKANBARU - BUKITTINGGI - 4 HARI 3 MALAM

JOM PI PEKANBARU - BUKITTINGGI 
4 HARI DAN 3 MALAM

DAY 1 : TIBA DI PEKANBARU tour ( D )
Rombongan tba di airport international pekanbaru, kami sambut dan kita tour melawat : MASJID AN NUR, BANDAR PEKANBARU, makan malam dan masuk hotel free program.

DAY 2 : PEKANBARU - PAYAKUMBUH ( B, L, D )
setelah sarapan kita cek out hotel dan berangkat menuju KAMPONG KAMPAR untuk melihat sebuah temple bersejarah bertahunkan 2 M, makan tengah hari,  kemudian kita menuju Payakumbuh bergambar di KELOK 9 - LEMBAH HARAU dan makan malam, masuk hotel dan free program.

DAY 3 : PAYAKUMBUH - BUKITTINGGI ( B, L, D )
setelah sarapan kita cek out dan tour mengunjungi : KILANG KOPI KINIKO, ISTANO PAGARUYUNG, BATU BERSURAT, makan tengah hari dan kita teruskan melawat BATU BATIKAM, PADANG PANJANG kilang kain sulam, KAMPONG PANDAI SIKEK, makan malam dan masuk hotel free program.
 

DAY 4 : BUKITTINGGI - AIRPORT PADANG ( B )
setelah sarapan kita cek out dan tour melawat JAM GADANG, kemudian bertolak menuju AIRPORT PADANG, boarding dan tour end.

PAKEJ TERMASUK :
- TRANSPORT, HOTEL, TOUR, MAKAN, MINERAL WATER, TOUR GUIDE untuk GROUP.

PAKEJ TIDAK TERMASUK :
- OPTIONAL TOUR, TIPPING UNTUK DRIVER DAN TOUR GUIDE, TIKET PESAWAT.